Berbahagialah wahai insan yang cekal menghadapi dugaan
Berbahagialah wahai insan yang tabah bertahan walaupon ramai yang gugur seorang demi seorang
Berbahagialah wahai insan yang yakin dengan janji-janji Allah
Berbahagialah wahai orang yang berusaha menyebarkan agamanya disaat yang lain memberi 1001 alasan
Berbahagialah wahai insan yang mencintai Allah dan dicintai Allah
Kemenangan terakhir adalah ditangan orang-orang yang bertaqwa
Aku juga ingin sepertimu..
Dengan Nama Allah yang Maha Pemurah lagi Maha Pengasihani "Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasihat menasihati supaya menetapi kesabaran." (103:1-3)
Thursday, June 9, 2011
Tuesday, June 7, 2011
Biar mulut diam dan akhlak berbicara
Barang siapa yang banyak perkataan nya, nescaya banyak lah silap nya.
Barang siapa yang banyak silap nya, nescaya banyak lah dosa nya.
Barang siapa yang banyak dosa nya, nescaya neraka lebih utama bagi nya
Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhirat, maka hendak lah ia berkata yang baik atau diam.
Barang siapa diam maka ia terlepas dari bahaya.
(Abu Naim)(Bukhari dan Muslim)(At-Tarmizi)
BANYAK DIAM TIDAK SEMESTI NYA BODOH,
BANYAK CAKAP TIDAK SEMESTI NYA CERDIK,
ORANG CERDIK PENDIAM LEBIH BAIK DARI ORANG BODOH YANG BANYAK CAKAP,
MENASIHATI ORANG YANG BERSALAH TIDAK SALAH,
KALAU ORANG MENGHINA KITA, BUKAN KITA TERHINA,
YANG SEBENAR NYA ORANG ITU MENGHINA DIRI NYA SENDIRI.
HIKMAH DIAM
1. Sebagai ibadah tanpa bersusah payah
2. Perhiasan tanpa berhias
3. Kehebatan tanpa kerajaan
4. Benteng tanpa pagar
5. Kekayaan tanpa meminta maaf kepada orang
6. Istirehat bagi kedua malaikat pencatat amal
7. Menutupi segala aib
Diam bukan bermakna sombong,
Jadi kita di nasihat kan hendak nya kita banyak berdiam (berzikir di dalam hati) dan Senyum selalu ... kerana senyum itu adalah satu sedekah,
Bicara yang baik adalah lambang hati yang baik dan bersih yang bergantung kepada kekuatan iman pada diri manusia.
http://www.facebook.com/prof.m.ali
Barang siapa yang banyak silap nya, nescaya banyak lah dosa nya.
Barang siapa yang banyak dosa nya, nescaya neraka lebih utama bagi nya
Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhirat, maka hendak lah ia berkata yang baik atau diam.
Barang siapa diam maka ia terlepas dari bahaya.
(Abu Naim)(Bukhari dan Muslim)(At-Tarmizi)
BANYAK DIAM TIDAK SEMESTI NYA BODOH,
BANYAK CAKAP TIDAK SEMESTI NYA CERDIK,
ORANG CERDIK PENDIAM LEBIH BAIK DARI ORANG BODOH YANG BANYAK CAKAP,
MENASIHATI ORANG YANG BERSALAH TIDAK SALAH,
KALAU ORANG MENGHINA KITA, BUKAN KITA TERHINA,
YANG SEBENAR NYA ORANG ITU MENGHINA DIRI NYA SENDIRI.
HIKMAH DIAM
1. Sebagai ibadah tanpa bersusah payah
2. Perhiasan tanpa berhias
3. Kehebatan tanpa kerajaan
4. Benteng tanpa pagar
5. Kekayaan tanpa meminta maaf kepada orang
6. Istirehat bagi kedua malaikat pencatat amal
7. Menutupi segala aib
Diam bukan bermakna sombong,
Jadi kita di nasihat kan hendak nya kita banyak berdiam (berzikir di dalam hati) dan Senyum selalu ... kerana senyum itu adalah satu sedekah,
Bicara yang baik adalah lambang hati yang baik dan bersih yang bergantung kepada kekuatan iman pada diri manusia.
http://www.facebook.com/prof.m.ali
Tuesday, May 31, 2011
Rezeki yang diberkati
Dari Anas r.a., katanya:
Abu Thalhah berkata kepada Ummu Sulaim
"Saya mendengar suara Rasulullah s.a.w. itu lemah sekali dan saya mengetahui bahwa beliau
adalah dalam keadaan lapar. Maka dari itu, apakah engkau tidak mempunyai sesuatu untuk
dimakan?"
Ummu Sulaim lalu mengeluarkan beberapa bulatan dari gandum, kemudian ia mengambil kerudungnya, kemudian ia meilipatkan roti dengan sebagian kerudung tadi, lalu memasukkannya di bawah bajuku dan mengembalikannya padaku dengan sebagian lagi -
maksudnya bahwa Ummu Sulaim itu melipat roti dengan sebagian kerudung dan dengan
sebagiannya lagi dilipatkan untuk Anas. Seterusnya Ummu Sulaim menyuruh saya (Anas)
untuk menemui Rasulullah s.a.w., lalu saya pergi dan saya menemui Rasulullah s.a.w.
sedang duduk di dalam masjid disertai oleh orang-orang banyak. Seterusnya lalu saya berdiri
di muka orang-orang itu, kemudian Rasulullah s.a.w. bersabda
"Adakah engkau diutus oleh Abu Thalhah."
Saya menjawab
"Ya."
Beliau bersabda lagi
"Apakah untuk sesuatu makanan?"
Saya menjawab
"Ya."
Kemudian Rasulullah s.a.w. bersabda kepada sahabat-sahabatnya yang ada di masjid
"Berdirilah engkau semua dan berangkatlah."
Saya juga berangkat mengikuti mereka itu, sehingga datanglah saya kepada Abu Thalhah, lalu saya memberitahukan padanya - bahwa Nabi s.a.w. mengajak orang banyak. Abu Thalhah berkata
"Hai Ummu Sulaim. Rasulullah s.a.w. telah datang dengan orang-orang banyak, sedangkan kita tidak mempunyai sesuatu untuk memberi makanan kepada mereka semuanya itu."
Isterinya berkata
"Allah dan RasulNya adalah lebih mengetahui itu."
Abu Thalhah lalu berangkat sehingga bertemu dengan Rasulullah s.a.w., kemudian berhadapanlah Rasulullah s.a.w. dengannya sehingga keduanya itu masuk rumah. Selanjutnya Rasulullah bersabda
"Bawa saya kemari apa yang engkau punyai, hai Ummu Sulaim."
Wanita itu datang dengan roti tersebut di atas, lalu Rasulullah s.a.w. menyuruh supaya dipotong-potongkan dan Ummu Sulaim memeraskan di atas roti itu suatu tempat berisi samin,
maka itulah yang merupakan lauknya. Kemudian Rasulullah s.a.w. bersabda sekehendak yang beliau sabdakan, selanjutnya lalu bersabda pula
"Izinkanlah masuk sepuluh orang." Orang sepuluh itu diizinkan masuk lalu mereka semuanya makan sehingga kenyang, lalu keluarlah setelah itu. Seterusnya beliau bersabda lagi
"Izinkanlah masuk sepuluh orang lagi."
Orang sepuluh itu diizinkan lalu mereka makan sehingga kenyang kemudian keluarlah mereka itu pula. Beliau s.a.w. bersabda lagi
"Izinkanlah masuk sepuluh orang lagi."
Demikianlah sehingga seluruh kaum - yakni yang menyertai Nabi s.a.w. dari masjid - dapat makan sehingga kenyang semuanya, sedangkan jumlah kaum itu ada tujuh puluh atau delapan puluh orang." (Muttafaq 'alaih)
SubhanAllah, betapa berkatnya rezeki yang Allah kurniakan. walaupon sedikit tetapi dapat mengenyangkan semua hadirin yang lapar.
Abu Thalhah berkata kepada Ummu Sulaim
"Saya mendengar suara Rasulullah s.a.w. itu lemah sekali dan saya mengetahui bahwa beliau
adalah dalam keadaan lapar. Maka dari itu, apakah engkau tidak mempunyai sesuatu untuk
dimakan?"
Ummu Sulaim lalu mengeluarkan beberapa bulatan dari gandum, kemudian ia mengambil kerudungnya, kemudian ia meilipatkan roti dengan sebagian kerudung tadi, lalu memasukkannya di bawah bajuku dan mengembalikannya padaku dengan sebagian lagi -
maksudnya bahwa Ummu Sulaim itu melipat roti dengan sebagian kerudung dan dengan
sebagiannya lagi dilipatkan untuk Anas. Seterusnya Ummu Sulaim menyuruh saya (Anas)
untuk menemui Rasulullah s.a.w., lalu saya pergi dan saya menemui Rasulullah s.a.w.
sedang duduk di dalam masjid disertai oleh orang-orang banyak. Seterusnya lalu saya berdiri
di muka orang-orang itu, kemudian Rasulullah s.a.w. bersabda
"Adakah engkau diutus oleh Abu Thalhah."
Saya menjawab
"Ya."
Beliau bersabda lagi
"Apakah untuk sesuatu makanan?"
Saya menjawab
"Ya."
Kemudian Rasulullah s.a.w. bersabda kepada sahabat-sahabatnya yang ada di masjid
"Berdirilah engkau semua dan berangkatlah."
Saya juga berangkat mengikuti mereka itu, sehingga datanglah saya kepada Abu Thalhah, lalu saya memberitahukan padanya - bahwa Nabi s.a.w. mengajak orang banyak. Abu Thalhah berkata
"Hai Ummu Sulaim. Rasulullah s.a.w. telah datang dengan orang-orang banyak, sedangkan kita tidak mempunyai sesuatu untuk memberi makanan kepada mereka semuanya itu."
Isterinya berkata
"Allah dan RasulNya adalah lebih mengetahui itu."
Abu Thalhah lalu berangkat sehingga bertemu dengan Rasulullah s.a.w., kemudian berhadapanlah Rasulullah s.a.w. dengannya sehingga keduanya itu masuk rumah. Selanjutnya Rasulullah bersabda
"Bawa saya kemari apa yang engkau punyai, hai Ummu Sulaim."
Wanita itu datang dengan roti tersebut di atas, lalu Rasulullah s.a.w. menyuruh supaya dipotong-potongkan dan Ummu Sulaim memeraskan di atas roti itu suatu tempat berisi samin,
maka itulah yang merupakan lauknya. Kemudian Rasulullah s.a.w. bersabda sekehendak yang beliau sabdakan, selanjutnya lalu bersabda pula
"Izinkanlah masuk sepuluh orang." Orang sepuluh itu diizinkan masuk lalu mereka semuanya makan sehingga kenyang, lalu keluarlah setelah itu. Seterusnya beliau bersabda lagi
"Izinkanlah masuk sepuluh orang lagi."
Orang sepuluh itu diizinkan lalu mereka makan sehingga kenyang kemudian keluarlah mereka itu pula. Beliau s.a.w. bersabda lagi
"Izinkanlah masuk sepuluh orang lagi."
Demikianlah sehingga seluruh kaum - yakni yang menyertai Nabi s.a.w. dari masjid - dapat makan sehingga kenyang semuanya, sedangkan jumlah kaum itu ada tujuh puluh atau delapan puluh orang." (Muttafaq 'alaih)
SubhanAllah, betapa berkatnya rezeki yang Allah kurniakan. walaupon sedikit tetapi dapat mengenyangkan semua hadirin yang lapar.
Tuesday, May 24, 2011
Kisah seorang murobbi dengan mutarobbinya
Suatu hari, seorang murobbi mengajak mutarobbinya untuk mengulangkaji tafsir surah Al-Ma’un.
Berkatalah seorang mutarobbinya dengan penuh hormat dan sopan
“Wahai guruku, bukankah ini sudah kali ke-4 kita mengulangkaji tafsir surah Al-Ma’un?”
Lalu murobbinya menjawab dengan penuh kasih sayang
“Ya, benar anak muridku. Ini merupakan kali ke-4 kita mengulangkaji surah ini”
Anak muridnya bertanya lagi
“Jikalau begitu guruku, bukankah sudah tiba masanya untuk kita berganjak untuk belajar tafsir surah seterusnya. Surah ini juga telah pon selesai kami hafal”
Lalu gurunya menjawab
“Wahai muridku.. didalam surah Al-Ma’un, Allah menyuruh kita membantu orang miskin dan anak yatim. Lalu berapa ramaikah anak yatim dan orang miskin yang telah kita bantu?”
Mutarobbi itu terdiam dan tersenyum malu..Lalu murobbinya menyambung..
“Wahai anak muridku sekalian.. tujuan kita belajar ayat suci ini bukanlah untuk dihafal dan dipelajari semata. Malah ianya memerlukan amal dari kita.. apalah gunanya ilmu yang tinggi didada tapi tidak dipraktikkan, apalah gunanya mendengar nasihat tetapi tidak mula beramal?”
Jawab murobbi itu dengan penuh kasih sayang.
mutarobbinya terdiam..
Berkatalah seorang mutarobbinya dengan penuh hormat dan sopan
“Wahai guruku, bukankah ini sudah kali ke-4 kita mengulangkaji tafsir surah Al-Ma’un?”
Lalu murobbinya menjawab dengan penuh kasih sayang
“Ya, benar anak muridku. Ini merupakan kali ke-4 kita mengulangkaji surah ini”
Anak muridnya bertanya lagi
“Jikalau begitu guruku, bukankah sudah tiba masanya untuk kita berganjak untuk belajar tafsir surah seterusnya. Surah ini juga telah pon selesai kami hafal”
Lalu gurunya menjawab
“Wahai muridku.. didalam surah Al-Ma’un, Allah menyuruh kita membantu orang miskin dan anak yatim. Lalu berapa ramaikah anak yatim dan orang miskin yang telah kita bantu?”
Mutarobbi itu terdiam dan tersenyum malu..Lalu murobbinya menyambung..
“Wahai anak muridku sekalian.. tujuan kita belajar ayat suci ini bukanlah untuk dihafal dan dipelajari semata. Malah ianya memerlukan amal dari kita.. apalah gunanya ilmu yang tinggi didada tapi tidak dipraktikkan, apalah gunanya mendengar nasihat tetapi tidak mula beramal?”
Jawab murobbi itu dengan penuh kasih sayang.
mutarobbinya terdiam..
Monday, May 23, 2011
Jangan..
Jangan hanya letih berfikir dan runsing itu dan ini tanpa ada usaha
Jangan hanya tau meminta nasihat tapi masih tidak mula beramal
Jangan hanya tau mengkritik tanpa ada usaha menambah baikkan
Jangan hanya tau menggunakan nikmat tanpa ketahui tujuan Allah memberikan nikmat itu
Jangan hanya berfikir bagaimana mahu menarik hati makhluk tanpa diri sendiri terdahulu menjaga hubungan dengan Penciptanya
Jangan tertipu dengan bisikan yang melemahkan
Sedarlah wahai diri yang alpa..
Mari mula berusaha
Mari mula beramal
Mari menambah baikkan
Mari gunakan nikmat dengan sebetulnya
Jagalah hubungan dengan Allah s.w.t
Berhati-hatilah dengan musuh2 Allah s.w.t yang sentiasa mencari-cari kelemahan kita
Jalan ini tidak mudah, tetapi ganjarannya tidak ternilai..
Jangan hanya tau meminta nasihat tapi masih tidak mula beramal
Jangan hanya tau mengkritik tanpa ada usaha menambah baikkan
Jangan hanya tau menggunakan nikmat tanpa ketahui tujuan Allah memberikan nikmat itu
Jangan hanya berfikir bagaimana mahu menarik hati makhluk tanpa diri sendiri terdahulu menjaga hubungan dengan Penciptanya
Jangan tertipu dengan bisikan yang melemahkan
Sedarlah wahai diri yang alpa..
Mari mula berusaha
Mari mula beramal
Mari menambah baikkan
Mari gunakan nikmat dengan sebetulnya
Jagalah hubungan dengan Allah s.w.t
Berhati-hatilah dengan musuh2 Allah s.w.t yang sentiasa mencari-cari kelemahan kita
Jalan ini tidak mudah, tetapi ganjarannya tidak ternilai..
Thursday, May 19, 2011
Sang Tidur dan Sang Sedar

Mereka berbeza diantara satu sama lain
Sang tidur dan Sang sedar
Hidup didunia..
Terlalu singkat untuk disia-siakan
Terlalu hina untuk dibangga-banggakan
Terlalu awal untuk diraikan nikmatnya
Ya Allah..
Mereka yang sedar sedang bangkit menegakkan kalimahmu
Sedang mereka yang tidur pula masih hanyut dibuat mimpi dan angan berterusan
Bangunlah Sang tidur..
Sedarlah wahai hamba yang hina
Hamba yang masih mencampur adukkan nafsu dan ibadah
Nikmat yang diberi olehNya bertujuan
Adakah kau begitu yakin roh masih dijasad pada esok hari?
Tenangkah hatimu mencari selain dari Allah dikala futurmu?
Sudah cukup berpuashatikah dengan usaha kau selama ini?
Jangan kalah pada bisikan..
Friday, April 29, 2011
Ria'
Dari Abu Hurairah r.a. pula, katanya: "Saya mendengar Rasulullah s.a.w. bersabda:
"Sesungguhnya pertama-tama orang yang diputuskan (diperiksa ketika diadakan hisab) pada hari kiamat ialah seseorang lelaki yang mati syahid - mati dalam peperangan fi-sabilillah. Orang itu didatangkan, lalu diperlihatkanlah kepadanya akan kenikmatan -yang akan dimilikinya, kemudian iapun dapat melihatnya pula.
Allah berfirman: "Apakah yang engkau amalkan sehingga dapat memperoleh kenikmatan-kenikmatan itu?"
Orang itu menjawab: "Saya berperang untuk membela agamaMu (ya Tuhan) sehingga saya terbunuh dan mati syahid."
Allah berfirman: "Engkau berdusta tetapi sebenarnya engkau berperang itu ialah supaya engkau dikatakan sebagai seorang yang berani dan memang engkau sudah dikatakan sedemikian itu."
Orang itu lalu disuruh minggir, kemudian diseret atas mukanya sehingga dilemparkan ke dalam api neraka.
Selanjutnya ialah seorang lelaki yang belajar sesuatu ilmu agama dan mengajarkannya serta membaca al-Quran, ia didatangkan, lalu diperlihatkanlah padanya kenikmatan-kenikmatan yang dapat diperolehnya dan ia juga dapat melihatnya.
Allah berfirman: "Apakah amalan yang sudah engkau kerjakan sehingga engkau dapat memperoleh kenikmatan-kenikmatan itu?"
Orang itu menjawab: "Saya belajar sesuatu ilmu dan sayapun mengajarkannya, juga saya membaca al-Quran untuk mengharapkan keridhaanMu."
Kemudian Allah berfirman: "Engkau berdusta, tetapi sesungguhnya engkau belajar ilmu itu supaya engkau dikatakan sebagai seorang yang alim, juga engkau membaca al-Quran itu supaya engkau dikatakan sebagai seorang pandai dalam membaca al-Quran dan memang engkau telah dikatakan sedemikian itu."
Selanjutnya orang itu disuruh minggir dan diseret atas mukanya sehingga dilemparkanlah ia ke dalam api neraka.
Ada pula seorang lelaki yang telah dikaruniai kelapangan hidup oleh Allah dan pula diberi berbagai macam hartabenda. la didatangkan lalu diperlihatkanlah padanya kenikmatan-kenikmatan yang dapat diperolehnya dan ia juga dapat melihatnya itu.
Allah berfirman: "Apakah amalan yang sudah engkau lakukan sehingga dapat memperoleh kenikmatan-kenikmatan itu?"
la menjawab: "Tiada suatu jalanpun yang Engkau cinta kalau jalan itu diberikan nafkah, melainkan sayapun menafkahkan harta saya untuk jalan tadi karena mengharapkan keridhaanMu."
Allah berfirman: "Engkau berdusta, tetapi engkau telah mengerjakan yang sedemikian itu supaya dikatakan: "Orang itu amat dermawan sekali" dan memang sudah dikatakan sedemikian
itu."
Orang itu lalu disuruh minggir terus diseret atas mukanya sehingga dilemparkanlah ia ke dalam api neraka."
(Riwayat Muslim)
Ikhlas umpama semut hitam yang berada diatas batu hitam dimalam yang gelap. Tiada siapa yang mengetahui akan keikhlasan ini melainkan Allah s.w.t
Letaklah keikhlasan didalam amal kita kerana Allah :)
"Sesungguhnya pertama-tama orang yang diputuskan (diperiksa ketika diadakan hisab) pada hari kiamat ialah seseorang lelaki yang mati syahid - mati dalam peperangan fi-sabilillah. Orang itu didatangkan, lalu diperlihatkanlah kepadanya akan kenikmatan -yang akan dimilikinya, kemudian iapun dapat melihatnya pula.
Allah berfirman: "Apakah yang engkau amalkan sehingga dapat memperoleh kenikmatan-kenikmatan itu?"
Orang itu menjawab: "Saya berperang untuk membela agamaMu (ya Tuhan) sehingga saya terbunuh dan mati syahid."
Allah berfirman: "Engkau berdusta tetapi sebenarnya engkau berperang itu ialah supaya engkau dikatakan sebagai seorang yang berani dan memang engkau sudah dikatakan sedemikian itu."
Orang itu lalu disuruh minggir, kemudian diseret atas mukanya sehingga dilemparkan ke dalam api neraka.
Selanjutnya ialah seorang lelaki yang belajar sesuatu ilmu agama dan mengajarkannya serta membaca al-Quran, ia didatangkan, lalu diperlihatkanlah padanya kenikmatan-kenikmatan yang dapat diperolehnya dan ia juga dapat melihatnya.
Allah berfirman: "Apakah amalan yang sudah engkau kerjakan sehingga engkau dapat memperoleh kenikmatan-kenikmatan itu?"
Orang itu menjawab: "Saya belajar sesuatu ilmu dan sayapun mengajarkannya, juga saya membaca al-Quran untuk mengharapkan keridhaanMu."
Kemudian Allah berfirman: "Engkau berdusta, tetapi sesungguhnya engkau belajar ilmu itu supaya engkau dikatakan sebagai seorang yang alim, juga engkau membaca al-Quran itu supaya engkau dikatakan sebagai seorang pandai dalam membaca al-Quran dan memang engkau telah dikatakan sedemikian itu."
Selanjutnya orang itu disuruh minggir dan diseret atas mukanya sehingga dilemparkanlah ia ke dalam api neraka.
Ada pula seorang lelaki yang telah dikaruniai kelapangan hidup oleh Allah dan pula diberi berbagai macam hartabenda. la didatangkan lalu diperlihatkanlah padanya kenikmatan-kenikmatan yang dapat diperolehnya dan ia juga dapat melihatnya itu.
Allah berfirman: "Apakah amalan yang sudah engkau lakukan sehingga dapat memperoleh kenikmatan-kenikmatan itu?"
la menjawab: "Tiada suatu jalanpun yang Engkau cinta kalau jalan itu diberikan nafkah, melainkan sayapun menafkahkan harta saya untuk jalan tadi karena mengharapkan keridhaanMu."
Allah berfirman: "Engkau berdusta, tetapi engkau telah mengerjakan yang sedemikian itu supaya dikatakan: "Orang itu amat dermawan sekali" dan memang sudah dikatakan sedemikian
itu."
Orang itu lalu disuruh minggir terus diseret atas mukanya sehingga dilemparkanlah ia ke dalam api neraka."
(Riwayat Muslim)
Ikhlas umpama semut hitam yang berada diatas batu hitam dimalam yang gelap. Tiada siapa yang mengetahui akan keikhlasan ini melainkan Allah s.w.t
Letaklah keikhlasan didalam amal kita kerana Allah :)
Subscribe to:
Posts (Atom)